Sebuah kata yang selalu muncul, sering terdengar dan banyak orang berusaha mengungkapkannya. Aku pernah bertanya-tanya pada diriku, apakah manusia tidak bosan dengannya? Apa yang menyebabkannya menjadi begitu populer. Terbayang masa silam, ketika aku pernah bertanya pada Mama akan cinta. "Mama, cinta itu apa sih?", lalu mama menjawab "Cinta adalah apa yang Dira rasakan pada mama dan papa hingga Dira tidak mau pisah dengan mama dan papa".
Ketika itu aku begitu senang hingga memeluk mama dan menciumnya, karena saat itu aku merasa menjadi anak yang normal, anak yang punya cinta. Aku juga merasa jawaban yang diberikan oleh mama adalah jawaban yang sangat tepat dan memuaskan akalku. Namun setelah aku memiliki seorang adik, aku kembali bertanya pada mama, " Mama, kenapa Dira tidak suka kalau Mama selalu menggendong adik dan tidak mau menyuapi Dira? Apa Dira sudah tidak sayang pada Mama dan apa Dira tidak sayang adik?", sebuah ungkapan yang kulontarkan pada mama dengan llinangan air mata dan sesenggukan kecil.
Ah, lagi-lagi mama membuatku merasa senang. Kala itu mama meletakkan adikku yang baru saja diberi asi dan tertidur pulas di atas kasur kemudian mama tersenyum, memelukku dan mendudukkan aku pada sebuah kursi kecil berwarna pink dan berkata "Dira, apa yang Dira rasakan menunjukkan bahwa Dira sayang sama mama dan adik, bahkan cinta Dira pada mama dan adik sangat besar. Saat ini Dira merasakan apa yang namanya cemburu. dan cemburu itu cinta. Tapi.., Dira harus ingat, kalau Dira sedang cemburu, Dira tidak boleh marah, menangis atau teriak-teriak, akan tetapi Dira harus memeluk mama dan mencium adik. ok!!", senyum mama menutup penjelasannya dan seketika itu aku memeluk mama seraya "Dira cemburu pada adik dan mama karena Dira sayang mama dan adik". dan hal itu selalu aku lakukan ketika aku merasa cemburu pada adikku.
Beberapa tahun berlalu, aku masuk sekolah dan adikku semakin tumbuh besar. Ketika itu aku pulang dari sekolah sambil menangis. Aku masuki rumah dan menuju kamarku. Namun di kamar sudah ada adikku yang baru berumur dua tahun merobek buku bacaaanku.Tanpa sadar, aku mencubit adikku dan ia menangis. Sejenak aku bingung bagaimana mendiamkan adikku, hingga mama datang melihat apa yang aku lakuakn hingga adikku menangis. Saat itu mama menggendong adikku dan mama menggandeng tanganku untuk duduk di tempat tidur.
Saat itu aku hanya duduk menunduk, menyadari bahwa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan. Aku pun mulai menangis dan air mataku terus membahasi rok merahku. Mama menyadari aku menangis tetapi beliau tidak menghiraukan aku karena masih berusaha mendiamkan adikku. setelah adikku diam, mama meletakkannya di karpet dan memberikannya selembar kertas untuk diremas-remah olehnya.
"Dira, hari ini Dira capek dan lapar tidak?". Aku merasa kaget karena mama tidak marah padaku. Tanpa basa-basi aku pun mengangguk. Mama tersenyum dan "Dira mau makan tidak? hari ini mama membuatkan sup sosis spesial untuk anak mama yang sedang kecapekan.". "Benar ma? Spesial untuk Dira? Dira mau!!". Entahlah tanpa dikomando aku mengikuti mama menuju dapur. Mencium aroma dapur, aku tersenyum. Entahlah, mungkin karena perutku merasa senang dan siap untuk diisi. Benar, mama membuatkan aku sup sosis yang begitu enak dan membuatkan aku es jus jambu biji. Betapa riangnya hatiku. Dengan lahap aku memakan sup sosis dan meminum jus jambu itu. Selepas aku membaca doa sesudah makan, mama mendekatiku dan bertanya.
"Gimana, Dira suka?"
"Suka ma, masakan mama enak dan tiada duanya. Ibu penjual soto aja kalah enak dengan masakan mama.", ucapku girang.
"Dira, tadi pulang sekolah menangis kenapa?"
"Oh, itu tadi teman Dira nakal. Masa tadi buku dira dipinjem, dia ga bilang, terus pas Dira tanya dia ga ngaku. terus pas pulang Dira dicium. iiiihhhhh, pokoknya nyebelin. Pipi Dira kan jadi dicium sama orang yang ga Dira suka."
"Oh, itu alasannya, terus Dira pulang nangis dan minta ditemenin adik nangisny?"
"Ah, ga gitu, abis tadi adik merobek buku bacaan Dira yang dari Pakde To. padahal kan buku itu buku kesayangan Dira, yaudah adik Dira cubit aja. abis nambah-nambahin Dira kesel."
Dengan sebuah senyum yang menghiasi bibir mama, mama pun berkata
"Dira, teman Dira itu, sepertinya pengen deket sama Dira dan dia sayang sama Dira."
"Tapi, kalau sayang, harusnya ga boleh nakal donk ma!", protesku.
"Masalahnya, teman Dira itu tidak tahu gimana caranya dapet perhatian dari Dira, terus dia ga tau gimana caranya ungkapin sayangnya ke Dira. Jadi, dia usilin Dira."
"Ah, masa sih ma, orang dia anaknya buandel banget."
"Ih, Dira mah ga percaya sama mama. Coba deh, besok Dira mama bawain roti buat dia, terus Dira kasih-in rotinya, tar kan dia seneng dan ga nakal sama Dira."
"Bener ma?"
"Bener. oh iya, mama lupa. Laen kali kalau adik nakal, adik jangan dicubit. kasihan donk adiknya. Katanya Dira sayang sama adik?"
"Ya, sayang, tapi kalau adik nakal, Dira jadi ga sayang!"
"Ehm, adik itu kan ga nakal, cuma ga tau kalau itu buku kesayangan kakaknya tercinta, adik itu munkin pengen kasih kakak sesuatu, tapi ga tau mau kasih Dira apa. jadi, untuk menyambut kakak Dira, adik merobek buku kakak Dira."
"Terus Dira harus gimana ma, kalau adik nakal lagi?"
"Dira peluk, dan ajakin adik main, sambil Dira kasih tau apa yang harus adik lakukan. Dira ga mau kan kalau adik ngira Dira itu kakak yang galak?"
"Ya gak mau donk ma. Dira kan anak baik."
Tapi, saat ini aku merasakan suatu perasaan lain, tapi bagaimana aku bilang sama mama?
-to be continued-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar